sejarah_pembentukan_dan_pengelolaan_lahan_gambut

Pengetahuan sejarah pembentukan dan pengelolaan lahan gambut berguna untuk memahami karakteristik gambut, implikasi tindakan dan pengambilan keputusan, serta penataan rencana masa depan. Pembentukan gambut di Sumatera Selatan memerlukan waktu yang sangat panjang. Umur gambut berbeda antar daerah dan posisi kedalaman gambut. Berdasarkan lingkungan pembentukannya, gambut dibedakan menjadi gambut topogen dan ombrogen. Proses dan lokasi pembentukan gambut menghasilkan tiga klasifikasi, yaitu gambut pantai, gambut pedalaman , dan gambut transisi . Gambut pantai banyak terdapat di Kabupaten OKI, Banyuasin, dan Musi Banyuasin (MUBA). Gambut pedalaman tersebar di Kabupaten OKI, OI, Muara Enim, dan Musi Rawas. Gambut transisi terletak di Kabupaten MUBA dan OKI. Klasifikasi ini diikuti oleh perbedaan vegetasi gambut yang tumbuh di atasnya.

Sejarah pengelolaan lahan gambut berkaitan erat dengan interaksi dan kepentingan manusia. Informasi tentang interaksi manusia dengan lahan gambut di Sumatera Selatan dapat kita ketahui dengan membaca catatan penelitian tentang gambut era pra-sriwijaya, gambut era sriwijaya , gambut era kesultanan Palembang, gambut era kolonial Belanda , gambut era orde lama, gambut era orde baru, gambut era pemanfaatan lahan, gambut era restorasi. Interaksi kuat antara manusia dan lahan gambut dimulai pada saat aktivitas sektoral bergeser dari lahan mineral/lahan kering. Sektor kehutanan, sektor perkebunan, sektor pertanian, sektor transmigrasi dan permukiman memiliki motivasi dan sistem pengelolaan masing-masing. Catatan sejarah pengelolaan lahan gambut ini juga diikuti oleh catatan sejarah kebakaran lahan gambut.

  • sejarah_pembentukan_dan_pengelolaan_lahan_gambut.txt
  • Last modified: 2021/02/24 16:53
  • by Yusi Septriandi