kesatuan_hidrologis_gambut

Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) merupakan sebuah ekosistem gambut yang letaknya berada di antara dua sungai dan/atau di antara sungai dan laut dan/atau pada genangan ataupun kawasan rawa.

Ekosistem gambut yang terletak diantara dua sungai atau diantara sungai dan laut disebut Kesatuan Hidrologis Gambut atau KHG. Didalam sebuah KHG, aliran air didalamnya dipengaruhi dan mempengaruhi kondisi ekosistem gambut. KGH diberi nama sesuai dengan sungai yang mengapitnya, misalnya KHG Saleh-Sugihan. Artinya ekosistem itu terletak diantara Sungai Saleh dan Sungai Sugihan.

Berdasarkan Keputusan Menteri LHK Nomor 129 Tahun 2017 tentang Penetapan Peta Kesatuan Hidrologis Gambut Nasional, Indonesia memiliki 865 Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) dengan luas total 24.667.804 Ha, yang tersebar merata di beberapa pulau Sumatera (207 KHG), Kalimantan (190 KHG), Sulawesi (3 KHG), dan Papua (465 KHG).

Salah satu bagian dari KHG adalah kubah gambut. Kubah gambut adalah area di dalam KHG yang memiliki elevasi lebih tinggi dibandingkan dengan lahan gambut disekitarnya. Kubah gambut termasuk dalam fungsi lindung karena menyimpan kandungan karbon dan air yang sangat tinggi. Sedangkan puncak kubah gambut adalah areal dalam kubah gambut dengan elevasi paling tinggi dari wilayah sekitarnya, yang penentuannya berbasis neraca air dengan memperhatikan prinsip keseimbangan air. Namun, tidak semua KHG memiliki kubah gambut dan puncak kubah gambut.

Total area kubah gambut di Indonesia mencapai 9.043.812 hektar atau 15 kali luas Pulau Bali. Namun, peta puncak kubah gambut belum tersedia sehingga menyulitkan pengelolaan dan pemantauan gambut di lapangan.

Kubah gambut memiliki peran penting sebagai pengatur keseimbangan air dalam suatu lansekap KHG, sehingga KHG biasanya masuk dalam zona lindung dan tidak boleh dimanfaatkan, dikeringkan dan dialihfungsikan.


  • kesatuan_hidrologis_gambut.txt
  • Last modified: 2022/06/08 07:12
  • by Arizka Mufida