gambut_indonesia

Gambut Indonesia

bgnews.jpg


Dalam suatu hubungan lingkungan seringkali di jumpai suatu permasalahan salah satunya harmonisasi antar manusia dengan lingkungan alam sekitar. Harmoni itu sendiri merupakan keselarasan hubungan antara manusia dengan unsur lainnya yang melingkupi kehidupannya. Hubungan manusia dan alam gambut di indonesia merupakan sejarah yang panjang, bukan hanya hubungan 2 arah tetapi 3 arah dimana terdapat hubungan manusia, alam dan Sang Pencipta. Kebakaran dan restorasi sering kita dengar ketika kita berbicara tentang gambut. Gambut itu sendiri telah terbentuk selama berjuta-juta tahun yang lalu dan telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk Penghidupan. Sebagai sebuah ekosistem, gambut bukan hanya memiliki fungsi lingkungan (penyerapan karbon, habitat flora dan fauna, pencegah banjir dan kekeringan, pengendali iklim) tetapi juga sebagai penyedia kebutuhan bagi masyarakat lokal dalam aktivitas kehidupan sehari-hari seperti pemanfaatan lahan untuk penanaman tumbuhan yang menghasilkan sehingga menambah perekonomian yang semunya mereka ambil dari lingkungan gambut.

Dalam podcast Gambut Bakisah eps. 7 mengenai Jejak Kearifan Lokal Gambut, menurut pakar antropolog Univeristas Palangkaraya, Sidik Kuso bahwa hubungan masyarakat adat Kalimantan dengan alam gambut tergambar dalam simbol-simbol yaitu simbol “Batang garing” yang merupakan simbol keseimbangan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan Sang Pencipta. Simbol batang garing diturunkan kembali ke etika yang disebut “Belong bakhdat” yang artinya hidup beradap, dari etika ini maka timbulah cara bagaimana masyarakat lokal memperlakukan dan memanfaatkan alam, sebagai contoh masyarakat adat Kalimantan sebelum membuka lahan untuk pertanian atau kegiatan lainnya, dilakukan sebuah upacara adat yang bernama “Menyanggar” . Upacara ini merupakan upacara untuk meminta izin kepada roh penghuni kawasan sebelum membuka lahan, apabila tidak melakukan upacara ini masyarakat percaya, mereka akan terkena “Pali” atau Pantangan yang akan menganggu kehidupan orang, masyarakat bahkan kampung mereka akan mengalami bencana. Melalui narasumber di dalam podcast tersebut bernama Nurhadi Karbain, seorang petani komunitas Mentangai Kabupaten Kapuas Kalimatan Tengah, menyatakan bahwa kegiatan pembukaan lahan dilakukan secara berkelompok yang terdiri dari pemilik lahan, ketua adat, yang mengerti prosesi ritual dan mantir adat. Pembukaan lahan pun dibatasi 1 ha per KK dan tanah yang dikelola bukan merupakan hak milik tetapi hak guna usaha karena tanah tersebut termasuk tanah adat. Tidak semua lokasi dapat dikelola, menurut narasumber juga hutan terbagi menjadi 3 kawasan yaitu hutan pokok hewan (tidak boleh dirusak dan khusus untuk ritual), Kaleka (kawasan yang digunakan untu berkebun serta permukiman), dan Sepa (tempat mencari kulit kayu, berburu dan mencari tanaman obat). Perkebunan yang dilakukan tidak hanya kebun monokultur tetapi dibiarkan tanaman lokal yang tumbuh berdampingan, gunanya juga sebagai pakan bagi hewan liar disana. Tidak hanya di Kalimantan, Pulau Sumatera yang memilki luasan gambut terluas dengan 9,6 Juta ha tentunya juga memilki pola hubungan manusia dan alam tersendiri. Bahkan dipulau Sumatera, gambut menyimpan sejarah panjang dari zaman kerajaan, zaman dimana negara Indonesia belum berdiri. Sebagai contoh, kawasan gambut di Pesisir Timur Sumatera menjadi saksi perjalanan kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan Budha terbesar yang berdiri pada abad ke-7 dengan raja yang tersohor yaitu Balaputradewa. Kerajaan Sriwijaya berkembang pesat yang menyebar dari pulau Sumatera, Jawa, Kepulauan Riau Bangka, Semenanjung Malaya, Kamboja serta Vietnam Selatan. Kejayaan kerajaan Sriwijaya tersbut, tergambar dari banyaknya penemuan benda bersejarah yang ditemukan terutama di kawasan Pesisir Timur Sumatera. Berdasarkan artikel yang ditulis oleh Wijaya (2019) dalam Mongabay.com, semenjak kebakaran yang terjadi dari tahun 2015-2019 ditemukan beberapa benda-benda yang bernilai sejarah seperti perhiasan emas berbentuk ikan, keramik, dayung perahu, tiang rumah, guci dan lain-lain. Dari aritikel tersebut juga kawasan Air Sugihan, Tulung Selapan sampai Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan yang merupakan daerah Pesisir Timur Sumatera merupakan salah satu kedatuan kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan pertemuan tersebut, kawasan pesisir timur dahulunya telah ada masyarakat yang bermukim, bahkan menjadi jalur lalu lintas perdagangan. Perahu menjadi moda transportasi terpenting dikarenakan kondisi geografis yang berupa lahan basah. Hubungan manusia dengan alam gambut di pulau Sumatera juga terlihat dari budaya yang telah terbentuk seperti kehadiran masyarakat rawang (Wong Rawang), Sumatera Selatan. Umumnya, Wong Rawang tinggal dirumah panggung diatas lahan basah yang sebagian besar beraktivitas mencari ikan dan burung. Kata Rawang sendiri dipilih karena berdasarkan lokasi permukiman yang berupa lahan basah. Di dalam komunitas Wong Rawang mereka masih mempercayai kawasan “angker” yang merujuk pada hutan-hutan yang didalamnya terdapat binatang buas, sehingga tidak berani untuk membukanya. Selanjutnya didalam pemenuhan kebutuhan mereka, Wong Rawang tidak memiliki tradisi memakan binatang berkaki empat sehingga mereka mencari ikan dengan cara memancing “bekarang”. Dalam berkarang ini juga masyarakat memilih ikan yang besar dan ikan yang kecil dilepas kembali. Olahan dari hasil tangkapan dibuat berupa salai, ikan asin, pekasem dan terasi. Terkhusus bagi kaum perempuan wong rawang, tradisi anyaman dengan memanfaatkan tanaman asli gambut seperti purun, rotan, pandan dibuat menjadi peralatan rumah tangga hingga perlatan memancing (Wijaya, 2018). Contoh-contoh budaya, tradisi yang terbentuk dari hubungan manusia dan alam diatas merupakan segelintir contoh dari banyak budaya yang telah terbentuk di kawasan gambut Indonesia. Hal ini menjadi gambaran bahwa sejatinya manusia terutama yang bermukim di kawasan gambut telah bersinergi dengan alam. Telah tertanam di hati mereka, bahwa gambut adalah rumah, gambut jugalah yang memberikan mereka penghidupan sehingga dengan menjaga gambut berarti menjaga rumah mereka. Selain itu, dengan menjaga gambut, berarti kita juga menjaga budaya bangsa Indonesia agar tetap lestari. Daftar Pustaka

**Gambut Bakisah eps. 7. 2020. Jejak Kearifan Lokal Gambut Online: https://open.spotify.com/episode/0CHPTlt8j5NEgxb9pdm5rL. **Wijaya, Taufik. 2019. Benda Sejarah Sriwijaya di Rawa Gambut Dijarah, Kejadian Berulang!. Online : https://www.mongabay.co.id/2019/10/04/benda-sejarah-sriwijaya-di-rawa-gambut-dijarah-kejadian-berulang/ <font 12px/inherit;;inherit;;inherit>Wijaya Taufik.2018. Menyelaraskan Identitas Rawang dan Restorasi Gambut. Online: https://www.mongabay.co.id/2018/10/07/menyelaraskan-identitas-rawang-dan-restorasi-gambut/</font>

  • gambut_indonesia.txt
  • Last modified: 2022/04/20 09:20
  • by Alson Ramadhani Lubis