dinamika_penghidupan_masyarakat_lokal

Perubahan sistem alamiah lahan gambut, hidrologis dan vegetasi, diikuti perubahan sumber nafkah masyarakat lokal. Dulu, pada tahun 1980an, pekerjaan utama masyarakat lokal adalah bekayu (menebang pohon komersial untuk dijual kayunya) pada musim hujan dan bekarang (mencari) ikan pada musim kemarau, ditambah pekerjaan sampingan seperti membuat tikar purun dan berburu rusa. Kini, jenis pekerjaan bertambah banyak, termasuk menjadi pekerja perkebunan kelapa sawit dan akasia, namun tidak bersifat massal seperti dulu. Pekerjaan bekarang ikan adalah mata pencaharian ekstraktif berbasis air yang bertahan dari dulu hingga kini. Pertanian generatif mulai dilakukan masyarakat lokal, seperti bekebun nanas.

Keragaman mata pencaharian ekstraktif di Lahan Gambut terkait erat dengan pola penguasaan lahan gambut. Dulu, lahan gambut bukan merupakan wilayah milik pribadi (privat). Areal milik hanya terjadi di tanah mineral (talang). Lahan untuk bekayu tidak hanya di wilayah yang dikuasai pengusaha besar (melalui skema Hak Pengusahaan Hutan) tetapi juga oleh tauke (pemilik modal) tingkat dusun (melalui skema surat izin kepala marga. Mereka dan pekerjanya hanya mengambil kayu. Pada lahan yang sama, bekarang ikan dilakukan oleh warga lain yang bekerja untuk pengemin (pemenang lelang lebak lebung). Jika terjadi kebakaran (biasanya pada musim kemarau panjang), semua orang dapat besonor(menaburkan) padi di lahan tersebut. Berburu satwa liar seperti rusa juga bebas di lahan gambut ini. Kini, sebagian besar lahan gambut dikuasai perusahaan swasta dan dijadikan areal budidaya kelapa sawit dan akasia, kecuali areal tertentu yang secara teknis sulit diusahakan (genangan dalam, cekungan rawa lebak).

  • dinamika_penghidupan_masyarakat_lokal.txt
  • Last modified: 2021/03/02 02:30
  • by Yusi Septriandi